Rangkuman Materi Seni Budaya Kelas 8 Semester 2

Rangkuman Materi Seni Budaya Kelas 8 Semester 2
BAB 1
A.  Ragam Hias
           Ragam Hias memiliki makna dan fungsi yang berbeda dan memiliki arti simbolik contohnya menangkal roh-roh jahat,memberikan keberkahan, dan sebagai simbol pangkat atau kedudukan masyarakat.
          Ragam hias/ornamen untuk hiasan dapat berupa motif tumbuhan,hewan,manusia,dan geogmetris yang digunakan untuk memperindah bidang 2 dan 3 dimensi. Motif ragam hias 2 dimensi diterapkan pada benda kerajinan anyaman, sedangkan motif ragam hias 3 dimensi sering dijumpai pada barang-barang rumah tangga dan kerajinan tangan.
          Proses pembuatan ragam hias ini dapat dilakukan dengan cara memahat,menganyam,dan pengecatan. Bahan-bahan yang digunakan dapat berupa kayu,batu,bambu,rotan,mendong atau pandan.
1.   Jenis-jenis Ragam Hias
A.    Ragam hias Flora
Jenis motif ragam hias flora merupakan pengembangan dari bentuk aslinya yang diwujudkan dalam bentuk sulur-suluran
B.    Ragam hias fauna
Bentuk ragam hias fauna biasanya mengalami perubuhan bentuk atau gaya. Motif ragam hias fauna diambil dari jenis yang ada di daerah setempat sebagai ciri khasnya, Contohnya kupu-kupu,burung,gajah,kadal, dan ikan
C.    Ragam hias Figuratif(manusia)
Karakter dari bentuknya disesuaikan dengan tema dan tujuan tertentu untuk mendapatkan keselamatan,kekuatan,dan keberkahan.
D.   Ragam hias Geogmetris
Bentuk ragam hias geogmetris merupakan pengembangan bentuk dasa-dasar geogmetris seperti lingakaran,segi tiga,segi empat, segi lima, belah ketupat, dan bentuk bebas. Motif bentuk ragam hias geogmetris dapat dibuat dengan cara menggabungkan bentuk-bentuk geogmetris ke dalam satu motif ragam hias
2.  Pola Ragam Hias
Bentuk ragam hias umumnya memiliki pola atau susunan yang diulang-ulang. Ragam hias ini berbentuk pola asimetris dan asimetris. Pola simetris, yaitu apabila pola ragam hias memiliki bentuk motif yang sama dan diletakkan seimbang antara sissi kiri dan kanannya. Sedangkan pada pola asimetris motif ragam hias motif ragam hias tidak diletakkan di tengah atau motif tidak diletakkan sama antara sebelah kanan dan kiri tetapi masih memiliki keindahan dapat dilihat pada bentuknya,contohnya segitiga, segi empat, garis silang, lingkaran, dan zigzag.
Pola ragam hias adalah hasil sussunan dari suatu aturan tertentu dalam bentuk dan komposisi tertentu. Penenmpatan ragam hias tergantung pada fungsinya. Beberapa bentuk pola ragam hias tersebut dapat berupa pola ragam hias tepi,memojok,memusat,bidang beraturan, komposisi, dan pengulangan.
A.    Pola Simetris
Pola simetris terbentuk dari sususnan motif-motif ragam hias yang memiliki keseimbangan dan bentuk yang sama dalam susunannya.
B.    Pola Asimetris
Pola asimetris terbentuk dari komposisi yang berimbanagn namun masih terlihat proporsi,komposisi, dan kesatuan yang harmoni
C.    Pola Ragam Hias Tepi
Pola ragam hias tepi bentuknya berupa pengulangan dari bentuk sebelumnya dan digunakanuntuk menghias bagian tepi pada bahan tertentu.
D.   Pola Ragam Hias Menyudut
Pola Ragam hias menyudut membentuk pola segi tiga dan umumnya memiliki bentuk ragam hias yang berbeda dan disesuaikan dengan bentuk ragam hias yang sudah ada
E.     Pola Ragam Hias
Pola ragam hias memusat bentuk coraknya berdiri sendiri. Pola ragam hias ini gabungan dari bebebrapa ragam hias dan membentuk ragam hias baru.
F.     Pola Ragam Hias Beraturan
Pola ragam hias beraturan terbentuk dari bidang dan corak yang sama. Susunan pola merupakan pengulangan dari bentuk sebelumnya dengan ukuran yang sama.
G.   Pola ragam Hias Tidak Beraturan
Pola ragam hias tidak beraturan merupakan sebaran dari bebebrapa motif yang berbeda dan tidak mengikuti pola proporsi dan komposisi yang seimbang.                           
B.   Alat dan Bahan
Penempatan ragam hias dalam menunjang unsur keindahan dapat diterapkan pada bebebrapa jenis behan seperti kayu,batu,keramik,dan logam. Bahan-bahan tersebut menyebabkan benda pada pembuatan dalam ragam hiasnya. Ada yang menggunakan pahat,pisau,dan kuas cat. Beberapa alat dan bahan yang digunakan dalam membuat ragam hias antara lain:
1.   Pahat
Pahat memiliki mata bentuk lururs dan melengkung. Pahat yang digunakan untuk membuat torehan atau pahatan pada media kayu.
2.   Palu kayu
Palu digunakan untuk memukul pahat yang sudah diberi sketsa ragam hias. Proses pemukulannya disesuaikan dengan kedalaman ukiran yang akan dibuat
3.   Kuas
Kuas digunakan untuk pemberian warna pada media kayu,batu,keramik, dan logam.
4.   Politur
Politur adalah pelapis dengan warna natural yang penggunaannya dilakukan dengan kuas maupun disemprot.
5.   Cat kayu/Besi
Cat digunakan untuk memberi efek warna dari ragam hias yang dibuat. Cat kayu/besi dapat bertahan lama dan ragamhias akan lebih indah dan menarik.
6.   Kayu/Papan
Media kayu atau papan dapt berupa kayu papan atau batangan
7.   Batu
Berbagai batu dapat digunakan sebagai media untuk menggambar ragam hias.
C.  Teknik Penerapan Ragam Hias
Penerapan ragam hias dapat dilakukan pada media kayu,keramik,batu,besi,tembaga,kuningan,anyaman bambu,dan rotan. Secara teknis perlakuan yang dilakukan pada masing-masing bahan yang berbeda-beda, ada yang menggunakan teknik cor,ukir,etsa, dan pengecatan.
1.   Teknik Ukir
Jenis bahan yang dapat digunakan dalam teknik ukir berupabahan dari kayu. Kayu yang sudah diberi ragam hias kemudian diukir sesuai dengan pola yang sudah ditentukan. Alat yang digunakan ukurannya berbeda tergantung dari besar kecilnya ragam hias yang digunakan.

2.   Teknik Cor.
Teknik cor dapat menggunakan bahan dasar kuningan,tembaga,tanah liat,gips, dan besi. Proses teknik cor dengan menggunakan bahan dasar gips yang dilakukan dengan cara membuat pola negatif atau cetakan tanh liat. Sebelumnya prosese pengecoran ragam hias bahan tanah liat dipersipakan terlenih dahulu. Selanjutnya dibuat tempat berupa kotak/tabung untuk menempatkan negatif ragam hias sesuai dengan posisi yang sudah ditentukan. Kemudian bahan utama pembentuk ragam hias dapat dituangkan dan selanjutnya tunggu hingga bahan utam mengering dan terbuka, setelah itu rapikanhasil cetakannya.
Teknik cor umumnya menggunakan bahan-bahan yang dicairkan terlebih dahulu seperti bubuk gips,tanah liat, dan logam. Bahan-bahan tersebut ada yang menggunakan proses pemanasan/pembakaran seperti logam.
Penggunaan teknik cor dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a.     Membuat negatif atau model yang akan dicetak
b.    Membuat cetakan
c.     Pembakaran
d.    Penyelesaian dengan cat dan pelapis vernis/melamin.
Alat dan bahan:
A.    Ember
B.    Pengaduk dari kayu
C.    Gips
D.   Tanah liat
E.     Air
F.     Cetakan dari kayu/batako(hebel)
G.   Cat besi/vernis
3.   Teknik pengecatan
Aplikasi motif ragam hias dengan pengecatan pada bahan kayu,batu, maupun besi. Bahan-bahan tersebut terlebih dahulu dibuat ragam hiasnya kemudian dilakukan pengecatan sesuai dengan pola ragam hias
Alat dan bahan:
A.    Kuas
B.    Palet cat
C.    Pensil
D.   Cat minyak/akrlik
E.     Kayu/triplek


BAB 2
                           TAPESTRI
A.   Tapestri
          Tapestri adalah sebuah teknik membuat karya tekstil dengan cara menenun benang-benang,serat-serat, dan bahan lain seperti kayu,logam,dan rotan dalam satu komposisi benda yang memiliki fungsi seni dan pakai. Kata tapestri diambil dari bahasa Perancis tapiesserie yang berarti penutup lantai atau bahasa Latin tapestrum, sejenis sulaman yang memiliki banyak teknik.Teknik tapestri memiliki kesamaaan dengan merajut.
          Karya tenunan tapestri dapat digunakan sebagai benda seni maupun benda yang memilkik fungsi pakai.Seni tapestri dapat dilihat berupa gorden,permadani atau karpet,dan keset.
          Struktur bentuk tapestri terdiri dari tenunan benang lungsi dan benang pakan yang dibuat menjadi barang atau benda seni tertentu. Benang lungsi adalah jalinan benang-benang yang menghadap ke arahvertikal, sedangkan benang pakan adalah benang yang mengarahhorizontal, dan menjadi bagian dari benang yang membentuk bidang gambar tertentu.
          Keindahan dari karya tapestri dapat dilihat dari penggunaan unsur-unsur garis,warna, dan bidang pada pola-pola gambar dan bahan-bahan pendukung lainnya seperti manik-manikdari kayu/logam dan tebal tipisnya benang. Karya tapestri perlu juga diperhatikan faktor komposisi,proporsi,keseimbangan,irama, dan kesatuan dari masing-masing bagian karya tapestri.
B.   Bahan dan Alat Tenunu Tapestri
1.    Alat tenun Tapestri
A.Bentangan(Spanram)
   Spanram digunakan untuk mengaitkan benang lungsi dan jalinan pakan yang membentuk corak tau motif tenunan.Spanram dapat dibuat dengan bahan kayu salah satu sisi berhadapan diberikan paku dengan ukuran 1cm antar pakunya.
    B. Gunting
Gunting digunakan untuk memotong sisa benang dan       bahan-bahan yang berlebih dan tidak terpakai.
 C. Sisir

          Sisir digunakan untuk merapatkan benang-benang yang sudah ditenun sampai mendapatkan kerapatan yang baik.
D.Paku penggulung
          Paku penggulung digunakan untuk menyisipkan benang pakan pada benang lungsi sehingga membentuk motif dan corak tertentu.
2. Bahan dan Tenun Tapestri
          Bahan-bahan tenun tapestri daalah sebagai berikut:
           A. benang wol
           B. kain perca
           C. bambu
            D. manik-manik
C. Teknik Tapestri
1. Desain dibuat untuk mempermudah dalam membuat tenunan.
2.  Membuat jalinan tenun tapestri
          Ada 2 macam teknik dalam tenunan tapestri yaitu:
                    a) Teknik tenun simetris
                             Tenik tenun tapestri menggunakan teknik tenun simetris yaitu teknik memasukkan benang pakan sejajar dengan tenunan benang pakan sejajar dengan tenunun benang pakan lainnya dan terkait diantara benang lungsi sehingga ragam hias.
                   b)Teknik tenun asmetris
                             Teknik asimetris yaitu teknik menenun dengan benang pakan ditenun menyilang pada benang lungsinya dan dilakukan berulang-ulang sesuai dengan desain ragam hias yang dibuat.
BAB 3
Menyanyikan lagu daerah
A. Teknik dan Gaya Menyanyikan Lagu Daerah
          Lagu-lagu daerah biasanya diiringi dengan seperangkat alat musik daerah yang sering disebut dengan karawitan. Istilah karawitan untuk menunjuk pada seperangkat alat musik tradisional secara lengkap secara okestra.
          Kebanyakan karya-karya seni musik(karawitan) yang dimainkandengan berbagai ansambel gamelan ataupun repertoar lain biasanya bersifat tradisional dan anomious.
          Pada musik karawitan Betawi gaya dalam gambang kromong disebutliaw sangat lazim pada perode tertentu dan wilayah yang tertentu.
          Komposisi karawitan dapat mengembangkan pebedaan-perbedaan dari sebuah wilayah sebuah wilayah dengan wilayah lainnya sepanjang waktu. Inilah yang menyebabkan munculnya gaya yang berbeda-beda. Gaya musikal adalah ciri khas atau karakteristik musikal yang dihasilkan dari beberapa kondisi:
·       1.Gaya lokal,yakni karakteristik cara menyanyikan lagudaerah yang berbeda dengan daerah yang lainnya.Pada isu globalisasi, kemudian disebut sebagai entitas lokasi genius
·       2.Gaya individual, adalah tipologi karakteristik seorang tokoh pencipta lagu-lagu yang membedakannya dengan pencipta lagu lainnya.
·       3.Gaya perodikal, adalah tipiologi karakteristik zaman tertentu yang menghasilkan gaya musikal tertentu misalnya gaya dalam bentuk musikal, adalah tipologi karekteristik yang dapat dibedakan dari berbagai bentuk karya musikal yang ada,misalnya pada musik Betawidalam gambangkromong lagu sayur, dengan lagu phobin,atau dalam kroncong asli,langgam,dan stambul. Dalam karawitan Betawi gaya atau musical style dikenal dengan istilah liaw.
Pada repertoar lagu-lagu daerah sering dibawahkan oleh seorang penyanyi.Di jawa disebut dengan sinden, juga di Sunda dan juga Bali. Di daerah  Sumatra Utara sering disebut dengan Perkolong. Di kalimantan disebut dengan mandihin, yaitu menyanyikan pantun-pantun dengan diiringi tabuhan gendang.
B.Menyanyi secara Unisono
          Menyanyikan lagu-lagu daerah ada yang dilakukan secara seorang diri tetapi ada juga yang dilakukan secara berkelompok. Madahin misalnya, yang menyanyikan pantun seorang diri sekaligus sebagai pemusiknya. Sinden dapat dilakukan secara berkelompok tetapi dapat juga dilakukan sorang diri. Mereka menyanyi dalam satu suara aatu sering disebut dengan menyanyi secara unisono. Menyanyi unisono membutuhkan kerja sama antara anggotakelompok,karena jika berbeda sendiri suaranya akan terlihat tidak bagus.
          Menyanyi pada masyarakat sering dilakukan sesuai dengan kebutuahn. Ada lagu-algu yang dinyanyikan pada saat upacara tertentu misalnya perniakhan,kelahiran,kematian,atau permainan. Ada juga lagu-lagu yang berisikan nasehat atau sanjungan terhadap makhluk sesama.
          Setiap daerah tentu memilki lagu-lagu yang dinyanyikan pada saat tertentu dengan bahasa daerah. Lagu-lagu ini merupakan kekayaan yang dapat dijadiakan sebagai salah satu sarana membentuk karakter dan pendidikan siakppada anak dan remaja. Nasehat yang disampaikan melalui lagu tentu lebih bermakna dan dapat diterima.
BAB 4
Bermain Ansambel musik Tradisional
A. Jenis musik ansambel Tradisional
          Karawitan adalah seri suara yang terbentuk vokal maupun instrumen yang berlaraskan pelog dan sendro. Istilah karawitan diambil dari kata rawit seperti, menurut KI Sindu Sawarno, Karawitan berasal dari Rawityang berarti cabe rawit yang kecil serta halus,indah. Indah disini maksudnya adalah seni. Menurut R.M Kusumadinata dari bandung bahwa istilah karawitan adalah Pancaran sinar yang indah.
          Di era sekarang istilah karawitan adalah mencangkup jenis-jenis alat musik yang berbentuk vokal maupun instrumental dan tidak hanya yang berlaraskan Pelog salendro saja tetapi seluruh bentuk jenis kesenian yang ada di Indonesia.

Komentar